Gerakan Literasi Sekolah (GLS)

GURU KAMID

Setangkai Bunga dan Sepenggal Kalimat

Di sebuah kafe duduk seorang perempuan muda, wajahnya kelihatan seperti sedang murung. Kepalanya tertunduk, entah apa sedang dipikirkannya. Menu yang telah dipesan masih belum di sentuhnya.

Perempuan muda nan cantik itu tak luput dari pandangan guru Kamid. Sejak pertama melihatnya, guru Kamid merasakan bahwa perempuan muda itu sedang menghadapi masalah, tetapi bagaimana cara menghiburnya. Kata-kata seperti apa yang harus disampaikan agar ia tidak merasa takut?

Setelah berpikir lama guru Kamid mengambil kertas tisue dari dalam kotak yang ada di depannya dan ia menuliskan sesuatu pada kertas tisue tersebut, setelah selesai kertas itu dilipatnya.

Sambil melirik perempuan muda yang masih tertunduk, guru Kamid meraih setangkai bunga mawar yang ada di dalam vas dan dililitkannya kertas yang bertuliskan tadi. Guru Kamid bangkit meninggalkan tempat duduknya mendekati perempuan itu.
“Permisi, Mbak” kata guru Kamid sambil menyerahkan setangkai bunga yang ada di tangannya. “Ini untukmu”.
Spontan perempuan muda itu kaget.
“Terimallah…” kata guru Kamid memaksa.
Dengan terpaksa perempuan muda itu menerima pemberian bunga dari guru Kamid.
Tanpa kata-kata. guru Kamid pergi meninggalkan perempuan itu.
Semula perempuan muda itu tampak tidak mempedulikan bunga itu. Tetapi, akhirnya jadi penasaran diciumnya bunga itu, dan dilepaskannya kertas yang melilit pada tangkainya, dibuka lipatannya dan iapun mulai membacanya; “Seandainya kau bisa mengangkat kepalamu yang tertunduk, dan memberikan senyumanmu, maka ruangan kafe ini akan terlihat indah. Karena tiada sebanding kecuali keindahan senyummu”

Tersungginglah senyuman perempuan muda itu, sambil mengangkat kepalanya ia menengok ke kanan dan ke kiri mencari guru Kamid, penasaran.

23 Agustus 2023

GURU KAMID

Mengajarkan Cinta Kasih

Semakin mendalami konsep pendidikan modern, guru Kamid menyimpulkan bahwa pendidikan yang diterapkan saat ini adalah pendidikan liberal yang lebih mengembangkan kemampuan nalar sehingga mengabaikan kekuatan hati dan kelembutan rasa.
“Bagaimana kita menerapkan pendidikan yang mengutamakan kekuatan hati dan kelembutan rasa.” Tanya guru Kamad.
“Dengan menanamkan cinta kasih kepada murid.” Jawab guru Kamid sambil melirik ke arah guru Kamad dengan mengangkat salah satu alis matanya. “Dengan tertanamnya cinta kasih akan melahirkan; kemurahan hati, rasa malu, kesabaran, lapang dada, merasa cukup, kecermatan, dan keceriaan.”lanjut guru Kamid.

10 Oktober 2022

BUNGAPUN GUGUR DI BULAN MEI 2019

Seorang bapak tertuntuk di pinggir trotoar
membawakan setangkai mawar merah
yang dipetik dari halaman depan
“Ini untukmu, Nak….”
pemberian ibumu
yang tak sanggup datang ke sini
mencium anyir bau darahmu
yang tercecer di jalanan
akibat tembakan
rombongan serdadu
yang lewat subuh tadi
sobekan kain sarungmu
yang tertinggal di jalanan ini
karena terinjak sepatu
biarkan menjadi oleh – oleh untuk ibumu, Nak
yang selalu menantikanmu
pulang dari surau !

dalam Lampion dan Kunang-kunang (9) – Wiwik Widayaningtias

CERITA PAGI INI
Mari kita awali pagi ini dengan minum kopi bersama di beranda ruma tempat biasa kita duduk berdua
bersama sepiring kecil rebusan ketela yang kita cabut berdua
kemarin sore, mari bicarakan ayam jago kita yang semalam tidak pulang
bersamaan ladang jagung yang tidak jadi dipanen karena ludes dipetik orang
dihalaman balai desa para tetangga kita sedang mengantre didepan loket untuk mendapatkan paket sambako
Pak Lurah mengumumkan naiknya pembayaran kesehatan, obat makin tak terbayar
rakyat berduyun
tertuntuk lesu
mereka yang tak terlihat meski berada di depan mata, yang tak terdengar meski berteriak menebas langit, yang tak terjamah meski tangan menggapai
dengar !
bayi-bayi menangis berkepanjangan karena air susu ibu yang kerontang
anak-anak dekil hanya berdiri dan mengeja jenis makanan di kaca restoran cepat saji sebuah mall
mereka menekan cekat tenggorokan sambil merapalkan doa menjelang makan sepanjang masa.

dalam Lampion dan Kunang-kunang (15) – Wiwik Widayaningtias


Views: 0